Berita Update Terbaru
Berita  

Urgensi RUU Keamanan Siber: Belajar dari ‘Bjorka’

Urgensi RUU Keamanan Siber: Belajar dari 'Bjorka'
Urgensi RUU Keamanan Siber: Belajar dari ‘bjorka

Fenomena peretasan yang terjadi di Indonesia sejak 2022-dengan tokoh sentral bernama “Bjorka”-telah menarik perhatian nasional dan internasional karena menggabungkan aspek keamanan siber, simbolisme budaya, serta intervensi dalam opini publik digital. Bjorka tidak hanya berfungsi sebagai identitas anonim dari seorang atau sekelompok peretas, tetapi juga sebagai simbol perlawanan digital yang mewakili sentimen publik terhadap lemahnya perlindungan data oleh pemerintah.

Serangkaian kebocoran data yang diklaim dilakukan oleh kelompok ini meliputi data yang dikelola oleh pemerintah, pihak swasta, hingga data pejabat tinggi negara. Itu mengkonfirmasi bahwa sistem siber nasional masih rentan terhadap serangan, sekaligus menyingkap krisis legitimasi institusi publik dalam menghadapi era keterbukaan digital. Tulisan ini mencoba pendekatan multidisipliner untuk memahami penggunaan nama Bjorka sebagai simbol, strategi komunikasi dan pengaruhnya terhadap regulasi nasional.

Menurut Roland Barthes dalam Mythologies (1972), simbol dalam budaya populer dapat membentuk mitos baru melalui konstruksi makna. Nama Bjorka bukan sekadar nama asing, namun ia berfungsi sebagai penanda yang memuat narasi eksentrik, subversif, dan eksklusif. Dalam penelusuran naratif publik, asosiasi nama ini dengan penyanyi asal Islandia, Björk, menambah kedalaman simbolik. Björk sendiri dikenal sebagai figur seni yang menolak konformitas, dan hal ini diterjemahkan ke dalam persona Bjorka sebagai hacker yang menolak dominasi otoritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *