Pembuka
Mabes Polri menyerahkan bungkusan duka yang mendalam atas meninggalnya Eyang Meri, istri dari Kapolri ke-5, Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Dengan usia yang mencapai 100 tahun, Eyang Meri, atau Meriyati Roeslani Hoegeng, menjadi simbol keberanian dan dedikasi yang melambung tinggi dalam sejarah Polri.
Latar Belakang
Meriyati Roeslani Hoegeng, lebih dikenal sebagai Eyang Meri, adalah ikon tak tergantikan dalam masyarakat Polri. Menikah dengan Jenderal Hoegeng, yang menjadi Kapolri ke-5 pada tahun 1970-an, Eyang Meri bukan hanya menemani suaminya dalam kariernya yang gemilang, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia dengan sikapnya yang rendah hati dan penuh belas kasih.
Fakta Penting
Eyang Meri meninggal dunia pada usia 100 tahun, sebuah pencapaian yang jarang dialami oleh banyak orang. Dalam pernyataannya, Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Edison Isir mengatakan, “Kami, keluarga besar Polri, turut berduka cita yang mendalam atas kepergian Eyang Meri.” Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan rasa hormat Polri kepada Eyang Meri, tetapi juga menggambarkan dampak sosial yang besar dari kepergian seorang tokoh yang merujuk pada era emas Polri.
Dampak
Meninggalnya Eyang Meri menjadi momentum untuk mengenang kembali peran Vital para tokoh perempuan dalam sejarah Polri. Dengan kepribadian yang penuh kasih dan dedikasi yang luar biasa, Eyang Meri telah memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk terus melanjutkan misi Polri dalam menjaga keutuhan bangsa.
Penutup
Menghadapi kepergian seorang tokoh seperti Eyang Meri, kita semua diajak untuk merenungkan dampak positif yang dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya. Dengan usia yang mencapai 100 tahun, Eyang Meri bukan hanya menjadi bagian dari sejarah Polri, tetapi juga bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang kuat dan berdaya.
Tinggalkan Balasan