
Perdebatan polemik keputusan Presiden Prabowo yang membawa Indonesia berhimpun dalam meja perundingan Board of Peace (BoP) tidak bijak jika kita berhenti sekedar pada konklusi ‘setuju atau menolak’. Karena Palestina khususnya Gaza, serta Timur Tengah secara keseluruhan, adalah ruang kajian yang mengandung banyak kompleksitas untuk sekedar dibaca dengan sudut pandang moral yang tunggal.
Ketimbang kita bersepakat atau menolak, lebih baik putusan diplomasi ini kita uji, namun sebagai sebuah tindakan, keberanian Indonesia hadir, menggambarkan kemampuan Indonesia membaca medan konflik, dan mengembangkan aneka kemungkinan-kemungkinan menjaga stabilitas perdamaian, Khususnya perdamaian di timur tengah yang penuh lapisan kuasa, sejarah kolonial, dan perang proxy global.
Secara historis, suka atau tidak suka, Timur Tengah bukan sekadar kawasan konflik antarnegara, melainkan sebuah proxy, arena persilangan aneka kepentingan global. Dan percaya atau tidak, hampir tidak ditemukan konflik di kawasan ini yang murni bersifat lokal.
Tinggalkan Balasan